Sabtu, 30 November 2013

Wawancara tentang Enigma di Gradasi, edisi November 2013



1.      Novel terbaru MasYudhi sudah terbit,yaitu Enigma. Bagaimana proses penulisan dan penerbitan novel tersebut?
Penulisannya saya selesaikan sekitar 2 tahun yang lalu.
Prosesnya biasa saja. Saya ingin membuat sebuah novel yang dikisahkan dari 5 sudut pandang. Dimana kelimanya punya karakter yang berbeda.
2.      Enigma ini novel keberapa Mas Yudhi dan apa yang ingin dikisahkan ke pembaca?
Ini novel ke30 saya.
Yang ingin saya kisahkan sebenarnya ada 3 hal besar. Walau memakai sub judul ‘tentang kisah cinta dan sesuatu yang tak terjelaskan’, namun pada dasarnya ada 3 kejadian besar yang saya ambil sebagai latar dari tokoh-tokohnya. Misalnya tentang kasus pembunuhan wartawan Udin, kisah Sekte pertobatan Lia Aminuddin dan tentang orang-orang kepercayaan para pejabat yang harus dihabisi karenan mengetahui banyak dosa tuannya.
3.      Bisa dikatakan Mas Yudhi ini penulis serba bisa, istilahnya aneka warna, aneka rasa, dengan beragam karya dan tema; cerpen,puisi novel dan esai. Juga tema sejarah, komedi, cinta bahkan reliji, apa yang melatarbelakangi hal tersebut?
Intinya banyak-banyak membaca. Tak membatasi genre apa pun.
Karena apa yang kita tulis adalah apa yang kit abaca.
4.      Apakah ada target dalam menghasilkan karya dan bagaimana jadwal menulis Mas Yudhi?
Harus selalu ada target ya.
Jadwal menulis saya di jam kerja, di sela2 waktu saya mengurus percetakan saya. Bila kondisinya sedang biasa, mengurus percetakan bisa selesai sekitar jam 11.00-12.00, selebihnya saya pakai untuk menulis. Kalau kondisi percetakan sedang ramai bisa sampai sore baru memulainya.
5.      Mas Yudhi adalah lulusan  Jurusan Teknik Arsitektur UNS, mengapa lebih memilih hidup dari dunia kemenulisan?
Awalnya prosesnya tentu tidak disengaja. Tidak pernah di atur. Namun sejak SMP, sudah banyak cerpen-cerpen saya yang dipublikasikan di beberapa majalah anak dan remaja. Jadi prosesnya sambil jalan. Namun yang pasti di tengah kesibukan sekolah dan kuliah, saya selalu menyempatkan untuk menulis, karena itu hal yang menyenangkan buat saya.
6.      Apa yang membedakan penulis yang background  pendidikannya sastra dengan penulis lain?
Dulu saya bisa menjawab pertanyaan ini. Namun sekarang setelah semakin banyak bertemu orang, sepertinya tak bisa saya lihat bedanya. Perbedaannya tergantung personalnya saja.
7.      Selain aktif menulis, Mas Yudhi juga punya penerbitan dan  aktif di komunitas sastra Pawon Solo, bagaimana Mas Yudhi mengatur kesibukan itu?
Komunitas itu adalah tempat bermain saya. Tentu tempat bermain itu selalu kita cari yang paling nyaman dan menyenangkan. Sekarang hampir semua profesi selalu membentuk komunitas, ada dokter, arsitek, dll. Dulu saya juga sempat bergabung di komunitas pengusaha muda, namun setelah berjalannya waktu, komunitas penulis dan sastralah yang lebih menyenangkan. Atas dasar itulah bergiat di komunitas menjadi penting, dan akan selalu diupayakan untuk diluangkan waktunya.
8.      Seberapa penting fungsi komunitas sastra menurut Mas Yudhi?
Sudah saya jawab diIni seperti tempat untuk melepas lelah, curhat, menggali informasi dan membantu penulis-penulis baru. Satu lagi yang saya rasa penting adalah untuk saling memotivasi.
9.      Bagaimana Mas Yudhi melihat geliat sastra di kota Solo?
Solo cukup berkembang. Tapi bila dibandingkan dengan 5 tahunan lalu, geliatnya sepertinya masih kalah. 5 tahun lalu, beberapa komunitas Nampak aktif, namun sekarang tak lagi terdengar gerakannya.
10.  Menurut  Mas Yudhi, minat membaca dan menulis masyarakat Indonesia seperti apa, terutama remajanya? Dan apa yang ingin disampaikan kepada penulis remaja(pemula)?
Tahun-tahun ini saya pikir semakin berkembang. Ini bisa dilihat dengan banyaknya penulis-penulis muda yang tampil. Penerbit-penerbit nampaknya memberi ruang yang cukup untuk remaja menulis. Ini artinya ada pembaca yang menerima terbitan itu.
Untuk remaja saya pikir tak perlu berpikir terlalu jauh dulu. Membiasakan membaca buku-buku bermutu akan membawa dampak yang positif, Jadi membaca sebanyak-banyaknya saja. Jadikan itu kebiasaan yang menyenangkan. Karena bila di waktu-waktu ke depan ada keinginan untuk menjadi penulis, hasil membaca itu secara tak langsung merupakan sebuah proses belajar yang tak dirasakan. 

Acara Malam 3 malaM, Balai Soedjatmoko, 29 November 2013

























Jumat, 29 November 2013

Ulasan Singkat dari Novel Enigma, oleh : Mustafa

Saya mulai membaca buku ini hingga usai. Berawal dari membaca novel berjudul enigma, yang didalmnya menceritakan tentang seorang remaja dengan karakter yang berbeda dan tidak mengetahui satu sama lain. Walaupun begitu mereka terlihat akrab, meskipun sebenarnya mereka menyembunyikan rahasia masing-masing, namun itu tidak menjadi masalah dalam sebuah pertemanan. Itu yang membuatku tidak tertarik dalam sebuah pertemanan. Dan banyak orang tidak menyukai ketika sling menyembunyikan rahasia satu sama lain, bahkan itu teman sendiri. 

Buku enigma yang bercerita tentang seorang anak remaja yang sudah berteman mulai dari dia sekolah sampai dia berpisah, keluar daerah, kemudian merek berteman kembali. Menceritakan tentang seorang anak yang melakukan kewajaran sebagai seorang remaja, apa yang dilakukannya dimasa mudanya ? karena dia tidak mempunyai banyak beban pemikiran seperti orang-orang yang sudah berkeluarga yang hanya memikirkan b agaimana menfkahi anak dan keluarganya. Mengingatkan bahwa manusia mempunyai kebebasan untuk bergaul dalam kehidupan sehari-hari, terutama anak remaja zaman sekarang. Cerita ini, cerita keakraban seorang remaja yang begitu dalam, sehingga bebas untuk melakukan sesuatu yang diinginkan sesamanya. Dengan bahasa tingkat tinggi, namun membuat saya yang membacanya merasa cepat usai untuk membacanya. Ceriota memiliki alur maju-mundur. Kadang dengan imajinasi penulis yang tinggi sehingga memiliki alur maju-mundur, atau b isa jadi in kesengajaan penulis. Dan seorang tokoh yang bercerita didalam buku enigma ini tidak menggunakan nama selayknya seorang Jawa karena semua alat ceritanya ada di Jawa. 

Novel enigma ini membuat saya sebagai pembaca ingin menelusuri ceritanya samapai terakhir. Namun ceritanya kadang ter-pending membuat saya ingin membuat saya ingin membaca terus tapi tidak se-serius diawal.  Cerita ini membuat saya ikut kedalam alur ceritanya dan membuat saya teringat pada waktu bercinta dibangku SMA dan begitu pula yang dialami sebagian teman-teman ku yang duduk dibangku SMA. Dan menceritakan tentang masa-masa dimana saya sebagai remaja, namun tidak ada rasa ketertarikan dengan kelakuan yang dilakukan Goza mulai dari awal hingga akhir ceritanya. Mengajarkan saya sebagai pembaca untuk melakukan pelecehan terhadap orang-orag walaupun teman sendiri. Dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan oleh kebanyakan perempuan. Setelah usai membaca saya tidak dapat menyimpulkan apa yang terdapat dalam novel ini. Alurnya yang maju-mundur dan cerita yang dilakukan  oleh Gaza dari awal hingga akhir, membuat saya tidak bisa menyipulkan apa-apa. Berbeda dengan karakter teman-temannya yang lain, dalam sebuah novel enigma. 

Dengan alur maju-mundur membuat saya merasa kebingungan setelah usai membacanya, meski begitu saya merasa kagum dengan kata-kata yang tercoret didalamnya karena menggunakan bahasa yang tinggi dan imajinasi yang luar biasa.  (Mustafa, Makassar. Santri kelas bahasa, Pare)

Rabu, 27 November 2013

Penampakan2 Enigma

Enigma sempat menjadi sponsor hadiah kuis: Monthly Giveaway: October 2013 di http://www.okydanbuku.com, bersama buku saya lainnya, [un]affair. ini foto penampakan pemenangnya... :)


http://www.okydanbuku.com/2013/10/monthly-giveaway-october-2013.html





25 Nov
Mau dong Yud, ini bukumu yaa...

Titian Tujuh Serabut, oleh Uun Nurcahyanti

Masa depan adalah komoditas dagang. Dalam nalar modern persoalan masa depan menjadi obrolan khas yang harus memiliki jejak finansial. Ia tertinggal dalam kenangan buku tabungan dan buku-buku yang menjlentrehkan impian-impian. Berupa di buku rapor sekolah, ijazah dan sertifikat-sertifikat. Dinisankan dalam nama diri yang kelak mesti semakin panjang. Panjangnya epitaf nama-nama ikutan ini seakan menjadi jaminan akan semakin terangnya masa depan si pemilik nama.
Nama diri tidak menjadi perhatian dan rebutan. Rahim-rahim tidak lagi mengalirkan tokoh-tokoh baru.Peran itu diambil alih oleh institusi pendidikan. Pemberian nama mengacu pada tradisi purba yang telah menjadi rutinitas bernama wisuda. Manusia seakan terlena. Dengan gagah melupakan bahwa dirinya berlazim untuk melakukan laku mencipta meski dalam pusaran yang tetap: misteri takdir. Sebuah enigma.

Pusaran yang dibawa oleh mistisisme novel Enigma adalah pendobrakan pada konsepsi baru yang usang tersebut.Mencemooh totalitarian bahasa yang seringkali menggelincirkan sikap batin dan mentalitas diri manusia. Masa depan ada pada tubuh masa kini yang bermaterialkan masa lalu. Ia sedekat urat nadi kita. Bagian dari suratan ilahiah.Utuh tetapi terpecah.Bukan sesuatu yang serba abstrak yang mesti diraup dengan impi-impi berbungkus cemas. Pecahan-pecahannya adalah potongan-potongan puzzle yang nantinya bakal terekatkan oleh benang cerita. Membentuk adegan-adegan drama yang ramai oleh tokoh yang dengan takzim menjalani riwayat skenario Si Penulis Novel.

Kehendak Hidup
Menyongsong masa depan cerah. Bahasa lazim yang sering digunakan oleh perusahaan asuransi, lembaga keuangan, dan institusi pendidikan. Kata menyongsong menjadi lecutan untuk berlomba-lomba menguak tabir masa depan. Namun Yudhi Herwibowo membawa alam masa depan ke depan hidung manusia Isara. Lembaran-lembaran takdir bertebaran dalam dupa-dupa penuh isyarat. Seandainya slogan-slogan menguak masa depan itu memang membawa keberkahan dan kecerahan tentu hidup menjadi lebih benderang. Masa depan yang dibawa Isara dalam peristiwa keseharian tentu menjadi karunia. Isara tak harus memilih. Hidup menjadi mudah karena ia berkemampuan menghindari celaka. Tapi masa depan yang jelas itupun ternyata tetap menuntut tafsiran.

Tafsiran manusia seringkali meleset.Berkelindan dan lagi-lagi membentuk misterinya sendiri. Membawa tanda tanya dan hidup dalam kemauan Sang Penulis Skenario. Menegaskan bahwa kelaziman manusia bukan sekedar menghindari kematian dan celaka, tetapi juga menghindari takdir dirinya.Karena diri manusia dilengkapi kemauan dan hasrat.Kekarep.Bukan sekedar karep.Kekarep ini mampu menjadi tabir yang selapis demi selapis bakal menyelaputi ketajaman firasat.
Riwayat firasat dekat dengan kesengsaraan.Dalam takdir hidup Isara, lakon ini terungkap dalam kesunyian yang tragis.Dalam luka yang senyap itu Tuhan tetap berkehendak Isara ada. Menitipkan sekedip mata besarnya untuk dimiliki ia yang tak termiliki. Pada sisi ini pun Yudhi Herwibowo konsisten mencemooh keengganan manusia dalam menghadapi kesakitan yang membanting. Bahwa hidup bukan jalur lurus nan mulus. Toh senyaman-nyamannya track MotoGP, tetap saja menyimpan maut.

Hidup itu pilihan.Siapa yang masih mau berkata demikian bila takdir adalah keutuhan yang terpecah.Pertemuan adalah Enigma. Perpisahan Enigma. Percintaan Enigma. Persahabatan Enigma. Ruang yang mengikat pun tak bisa dengan jumawa kita pilih dan kita patok-patok sekehendak hati.Toh  sepiring lotek dan bangku warung mampu menjadi kisaran takdir. Membawa drama hidup dalam pentas teatrikal panjang dan tak dinyana.

Tak dinyana adalah tetes air hujan yang mengaliri ladang-ladang kehidupan. Tak dinyana membawa lekuk tubuh  Tuhan. Mengawetkan serba maha yang tertera sebagai titelnya.Tak dinyana juga membentuk ritme nada dan irama meski tanpa musik yang nyata.Hidup menjadi berwarna kala gelap menemani terang.Novel Enigma menyuguhkan serba tak terduga ini untuk menyaingi toko serba ada.Dalam toko serba ada tidak ada kegelapan dan bau busuk seperti dalam pasar tradisional.Mall minim kejutan peristiwa.Hal yang mengejutkan hanyalah harga.Berbeda dengan pasar yang berdesakan.Banyak yang tak terduga.Hidup memang serba tak terduga.Keterdugaan mengubur hidup.

Sejilid Takdir
Konsep gelap yang bercerita tertumpah dalam fisik buku, Kegelapan adalah sang penyimpan misteri. Mengabarkan kejut untuk disapa.Sampul  hitam berhias gerigi menjadi musik pembuka untuk menikmati pentas teater dalam raga novel. Saat tabir dikuak meletuplah mantra-mantra.Berulang.Berganti. Kembali, Bergeser. Lalu para arwah membentuk keheningan.Memanggil para pejalan lelaku.

Hidup berjalan cepat dalam lintasan waktu yang serba bertabrakan. Masa depan memanggil masa lalu. Masa lalu mengakar di masa kini.Waktu tidak menjadi jam-jam berangka. Jarum jam adalah absurditas tak beraksara. Penggolongan waktu menjadi tahayul belaka.Konsepsi ekonomi modern yang mengkultuskan waktu demi memperpanjang hidup patah dalam dunia penuh teka-teki dalam novel Enigma.

Manusia memang makhluk ekonomi.Namun bukan mutlak ekonomi.Hukum relativitas Ensteins tetap berlaku dalam segala tata hidup manusia.Manusia bukan makhluk mutlak layaknya malaikat.Ekonomi berhidup dalam ketakziman serba relatif ini.Ketidaknyanaan tetap menjadi tawaran tegas.Hidup yang berpusat pada uang akan menghalalkan segala laku. Kerja bukan lagi makarya.Berkarya.Kerja adalah mengumpulkan uang agar segera kembali terhamburkan.Dengan demikian kehidupan manusia aman dan terjamin. Kebahagiaan akan segera datang. Toh ada uang untuk membelinya.Kebebasan finansial adalah kebahagiaan.Memanggil cinta.

Lakon Goza dan Wirajja memberi wajah nyata tentang sosiologi dan psikologi uang. Menghasilkan pemujaan ragawi terhadap apa saja. Bedebah bukan menjadi peringatan tetapi ingatan dan kerinduan. Hanya lantaran ia  rupawan. Ia memiliki kekuasaan. Bedebah begitu lekat dengan lingkup birokrasi.Tak lazim tapi nyata.Menyimpang namun terbiarkan.Terjadi di ruang-ruang yang mengatur keja publik.Benderang tapi tak tersentuh.Enigma.

Sayangnya potongan teka-teki ini justru compang-camping di halaman terakhir buku. Cover belakang.Pertaruhan penulis yang lebih banyak menebar jala penasaran dan menghasilkan pertanyaan justru tergagalkan oleh keteranganyang tertera di sampul belakang. Kilas tentang tokoh yang tertera disana tidak mengabarkan enigma.Terlalu terang sehingga melabrak konsistensi penulis yang dengan tekun membentuk bangunan Enigma sepanjang cerita. Membaca cover belakang mengguriskan kecewa.

Kuasa Nama
 Penulis masih memegang teguh tradisi memberi nama pada benda-benda seperti yang terkabar dalam Al Baqarah, tetapi ia tidak terseret pada arus keasingan yang mengawang. Seperti yang dilakukan penulis-penulis novel era 80-an yang membawa modernitas dalam nalar nama berbau Eropa. Yang dilanjutkan dengan nama-nama berbau Timur Tengah saat novel-novel religius dan sufistik melimpah. Pilihan nama yang asing tapi magis selalu menjadi ciri khas Mas Yudhi. Dugaan saya, nama-nama ini bertubuh tradisional yang kental.Nama yang seharusnya lebih berasa Indonesia yang beraneka aksara dan rasa.Kata yang dekat tetapi masih jauh.Nama memiliki kuasa khas dalam setiap karya Yudhi H.

Setelah bertanya-tanya, ada beberapa nama yang bisa tertelusuri. Isara yang orang Jawa merupakan kata dalam bahasa Bugis.Bermakna pertanda atau isyarat.Dalam bahasa Arab juga.Ketidaklaziman yang merupakan tawaran keberaniandri Mas Yudhi untuk menantang diri dalam mencipta nama. Asing tapi mengakar.Bukankah tak mengapa?

Patta juga merupakan panggilan khas kehormatan dalam bahasa Bugis.Biasanya diperuntukan untuk manusia cerdik pandai.Seperti karakter yang dibawakan tokoh Patta. Yang juga seakan mengamini bahwa pelajar yang pandai akan mengalir di dua tempat. Kampus dengan menjadi dosen atau ke lingkaran birokrat.Pilihan penulis yang membawa cerita ke kursi Senayan bukan sekedar ingin menguak adanya konspirasi kekuasaan yang memang bukan rahasia lagi.Dalam formalitas akut yang serba santun dan kabur itu ternyata tetap ada hal tak dinyana.Persahabatan.

Senayan menyimpan seorang Sanda untuk Patta.Mungkin imaji pembaca menanti skandal. Hal yang biasa tejadi pada eksekutif muda produk metropolitan dan, maaf,  Senayan. Ruang eksklusif bertabur rupiah berlimpah ruah.Mas Yudhi menggagalkan dugaan pembaca.Segala hal tak semau kelaziman umum.Sang pembuat cerita selalu melakukan laku tak dinyana.Lelaku Ahmad Fathanah yang bergelimang pelukan perempuan dan rupiah dikecoh dengan pertemanan Sanda dan Patta. Lelaki bisa saja hanya memiliki sebuah nama dalam hatinya. Serasa bodoh di zaman serba permisif ini.Tak dinyana.

Kurani yang bermata bening dan berbahasa penuh kesantunan seperti baju lain dari kata Nurani yang terlanjur telah berkecambah. Atau Qur’ani. Lembut dan penuh material cerita yang berserakan.Pilihan-pilihan nama ini menjadi tanda tanya.Membentuk enigma lagi-lagi.Indiray. Goza, Hasya, dan Wirajja masih menjadi serabut pertanyaan.

Penokohan
Tujuhtokoh  menghidupkan sejilid takdir. Memiliki warna benang yang tak sama. Terajut indah dalam selendang drama  berirama cepat.Bila Laela S Chudori dalam 9 Dari Nadira melakukan cara bercerita yang sama tetapi dengan sayatan yang tenang, Yudhi H. melakukannya dengan irama yang mencacah. Namun tidak membuat serpihan yang bias.Secara cepat mampu merangkul pembaca untuk memasuki kemagisan cerita.Mencengkeram dengan aneka cekam.
Cengkeraman yang dilakukan Enigma kurang menghujam.Kurang mencukupi untuk memuat judul Enigma sebenarnya. Saya membayangkan bila setiap pergulatan diri sang tokoh dipertajam dengan latar masa lalu yang lebih mendetail maka rasa Enigma akan lebih menggugah dan gurih. Dengan kekuatan bercerita yang peka ala Yudhi Herwibowo dan gaya bahasanya yang bersahaja tapi antep,rasanya tak mengapa bila Enigma jadi setebal Filosofi Catur. Ia akan senikmat teh ginastel yang beruap pagi.

Lakon Goza membawa kesan mendalam pada banyak pembaca.Ia menyimpang dari akad kebaikan ala agama. Mencemooh zaman dengan keberanian berlaku lepas.Merdeka dalam memaknai hidup.Menabrak segala pagar kelaziman.Goza sampah namun menyita perhatian.Paling gencar terbicarakan meski dengan caci-maki.Membentuk pola pikir dan batin pembaca secara kuat.Latar belakang kehidupannya yang sepekat malam sebenarnya bisa menjadi pelajaran keorangtuaan yang luar biasa.

Menampar budaya pernikahan tanpa memahami tanggungjawab regenerasi bangsa. Menampar pola pikir massa yang lebih sering menganggap bahwa pendidikan anak hanyalah urusan domestik rumah tangga.Negara yang mengabaikan persemaian anak bangsanya akan tuntas dalam kesudahan. Bahwa Goza adalah simbol generasi sebuah bangsa.Ia ada dan telah bergerak dalam jamaah bedebah. Mereka yang melahirkannya adalah iblis-iblis, meminjam bahasa Goza.Enigma mampu menjadi lokomotif tobat nasional untuk meruwat nusantara.Haha.
Goza hanya satu contoh.Bumbu lotek dan bangku warung yang telah berumur puluhan tahun itu belum berbahasa. Apalagi Senayan. Juga café yang menjadi tempat nongkrong para anggota dewan yang terhormat.Tempat-tempat yang berceloteh tentu akan membawa kesan magis yang serba tak terduga. Sealur dengan Enigma.Siapa tahu itu akan berbuah nobel sastra. Ah, itu mimpi pembaca.
Entah sebagai kesengajaan atau bagaimana, penokohan dalam novel Enigma terasa serba nanggung.Saya bercuriga ini bagian dari pecahan teka-teki Enigma itu sendiri.Dalam pentas teater latar tokoh terkuak dalam obrolan dan tutur kata.Ia menjadi kekuatan. Maka kesan peristiwa membaca dalam lakon pentas drama menjadi pengalaman yang sungguh baru bagi saya.Yang bahkan belum bisa hadir saat membaca buku model skenario drama.Ada harapan Enigma menjadi suguhan pentas teatrikal suatu saat nanti.Kata-kata yang disodorkan Mas Yudhi memiliki musikalitasnya sendiri.Mantra-mantra.Dupa.Aku.Kau.Mereka. Hadirlah Enigma dalam pentas tanda tanya. Bukankah hidup itu serba tak dinyana? Masih Enigma.

Cinta, Spiritual dan Kuliner dalam Novel Enigma, oleh Ngadiyo

Gempita Menyambut Karya Baru
Aku selalu penasaran, ingin tahu, tepatnya sangat antusias apabila ada buku yang baru terbit. Tidak hanya buku saja, tetapi setiap hari selalu ada gagasan, esai yang dimuat di koran-koran yang membuatku segera terpantik membacanya dari teman-teman esais yang mengabarkan tulisannya dimuat lewat telepon genggam. Dan juga karya-karya dari penulis lain yang segar dan intelektual. Bagiku ini adalah bagian dari etos literasi. Etos puja kata. Sungguh bahagia menyambut karya yang baru dipublikasikan.
Aku mengetahui novel Enigma akan terbit, terlebih dahulu, penulisnya, Yudhi Herwibowo, mengunggah cover yang mencerminkan roda kehidupan selalu berputar dengan latar warna hitam pekat di Facebook. Ada kalimat di bawah judul novel itu yang membuatku semakin penasaran tentang isinya.
... tentang sebuah kisah cinta dan sesuatu yang tidak terjelaskan...
Imaji yang terbayang dalam ruang nalarku adalah novel ini berisi tentang percintaan. Ya kisah cinta. Kalau sesuatu yang tidak terjelaskan membuatku berpikir bahwa novel ini kisahnya absurd. Ataukah kisah cinta yang tidak berujung? Cinta bertepuk sebelah tangan itu bisa dijelaskan. Cinta segi tiga juga bisa dinalar. Cinta monyet? Oh.
Dugaan awal saja sih.
Akhirnya novel Enigma terbit. Tanggal 14 September 2013, aku datang di diskusi kecil Pawon bersama Indah Darmastuti, Puitri N Hati, M R Johan dan Yudhi Herwibowo (sang pengarang Enigma). Begitu gempita hatiku ketika di atas meja kecil di mana kami duduk mengelilinya, Yudhi Herwibowo menceritakan kebahagiannya atas novel terbarunya yang sudah beredar di Gramedia, Togamas dll di seluruh Indonesia.
“Di Togamas baru datang lho? Diskon lagi,” kata Yudhi.
Aku manggut-manggut saja. Dalam hati usai diskusi kecil aku akan ke Togamas, membeli Enigma. Itu saja rencana yang membuat semakin penasaran dan antusias.
Benar. Aku menepati hatiku. Usai diskusi kecil aku bergegas menuju Togamas depan Kota Barat Surakarta. Langsung menuju bagian buku-buku baru (new arrival). Aku langsung mengambil Enigma dengan label tergantung di atasnya diskon 20%.

Keabsurdan di Awal Pembacaan
Suasana absurd. Hiruk pikuk orang yang sedang berkendara melintasi jalanan dengan lintasan benda apa yang tertangkap oleh mata. Itulah pembukaan novel ini.
Aku sempat berhenti membaca ketika sampai di halaman 50an. Ya karena belum mudeng saja.
Ini membuatku harus membaca Enigma dari awal lagi. Lagu Enigma juga kuputar lewat Youtube. Asyik juga menyimak lagu yang rancak sekaligus aneh di telinga.
Menikmati novel dengan alur cerita yang membumi, karena berlatar di Solo dan Yogyakarta, membuatku semakin paham lokalitas yang diangkat.
Penggambaran cerita setiap tokoh mulai dari Hasya, Patta, Isara, Goza, Indiray membuat pembaca semakin terbuai oleh cerita yang terus berkembang dan terasa didongengi. Dongeng persahabatan ketika kuliah, pekerjaan usai wisuda, percintaan antara teman satu dengan yang lain, kegagalan cinta dan tentu saja ketika berkumpul dengan sahabat pastilah ada acara makan-makan bersama. Dan itu tidak bisa dipisahkan dalam pertemanan dimana pun dan kapan pun. Selau ada makanan menemani obrolan.

Cinta dan Kuliner
Manusia secara alamiah memerlukan penyejuk spiritual. Pencarian spiritualitas membuat jiwa lebih ingin berdamai dengan kemanusiaan dan kematian.
Ada yang puas menjalani ritus keagamaan karena diajarkan sejak kecil. Ada pula yang senantiasa penasaran, bahkan ragu terhadap agama yang dipeluknya. Keraguan spiritual inilah mendorong kelompok kepercayaan yang dalam novel ini menamakan dirinya sebagai Pondok Pertobatan. Sebuah komunitas spiritual yang dimana agama di KTP tidak begitu berpengaruh terhadap eksitensialisme bertuhan.
Pondok Pertobatan menawarkan kepada salahsatu tokoh untuk berikhtiar menemukan kedamaian dari segala dosa yang telah diperbuat. Ketenangan hidup dari hiruk-pikuk dunia. Tokoh yang terlibat dalam pencarian kepercayaan seolah mengingatkan saya dengan gerakan Darul Arqam.
Beberapa dampak psikologis yang traumatis membuat orang kejam dan tega menjadi pembunuh. Ya, salahsatunya bisa kita temukan pada tokoh Goza. Si pembunuh bayaran yang berakhir senjata makan tuan saat akan dilaksanakan resepsi pernikahhan. Jebakan undangan pernikahan mengakhiri riwayat hidupnya.
Kisah cinta tanpa syarat antara kakak dan adik pun yang ingin selalu melindungi dalam novel ini membuktikan betapa kenangan dengan saudara terdekat begitu intim. Begitu menyentuh dan berpengaruh terhadap kejiwaan untuk senantiasa welas asih. Dunia anak yang penuh dengan permainan terus terbawa hingga dewasa. Walau harus kehilangan saudaranya.
Cinta dan seks begitu menggairahkan dan menantang dalam hidup Hasha. Seks adalah kompor yang selalu menyala. Melihat perempuan yang seksi tentu membuat gelora tersendiri dan ia pun sosok pria perayu ulung.
Yang membuatku terperangah dan ngiler saat membaca Enigma adalah kuliner lokal seperti pecel lele dan lotek. Lotek menjadi ikon kuliner istimewa dalam novel ini. Sebelumnya, aku belum pernah membaca novel yang mendeskripsikan lokalitas kuliner seperti dalam novel ini.
Novel Enigma enak dibaca. Mengalir dan sepertinya ruang-ruang hening begitu terasa. Terakhir, beberapa kesalahan ketik, typo, masih ada dalam novel ini. Begitu.

Kartasura, 25 November 2013


Ngadiyo, esais dan cerpenis. Bergiat di Pawon dan Bilik Literasi-Solo. Cerpennya yang berjudul “Langkah Tak Sempurna” memenangkan lomba Jika Aku Mereka dan akan diterbitkan oleh Gagas Media bersama 11 pemenang lainnya, Desember 2013.

Reruntuhan Imajinasi Enigma, oleh Sabrina Nevada

Enigma.Sebuah sajian imajinasi yang dikemas apik olehYudhiHerwibowo. Novel yang berwajah gelap ini berkisah tentang sepenggal demi sepenggal hidup dari lima orang sahabat. Isara, Hasha, Patta, Chang, danGoza. Nama-nama yang lumayan terasa asing sebetulnya. Setiap dari kelima tokoh itu berposisi sebagai orang pertama dalam masing-masing penggalan cerita. Dengan gayanya masing-masing pula. Di prologkan dengan kisah Isara menjadikan novel ini dengan sendirinya membentuk enigma-nya.

Saya mendapat novel inidari seorangteman. Temanku bilang kami akan mengobrolkan buku ini hari Senin. Saya buru-buru melahap habis buku dari depan berurutan, sesegera mungkin karena saya hanya ditarget sehari untuk menyeleseikan membacanya. Dalam proses membaca, saya temui berbagai rasa yang bergulat. Melompat-lompat. Sesaat jadi Isara. Sesaat lagi jadi Hasha. Lalu jadi Chang. Dan ke-enigma-an itu timbul tenggelam. Emosi yang menggebu sesaat juga hilang. Mirip seperti saat aku membaca  novel 9 dari Nadira (Leila S. Chudori), Entrok (OkkyMadasari), Trash (Andy Muligan), dan beberapa novel yang sama dalam penyajiannya. Sama-sama yang bercerita sebagai orang pertama lebih dari satu orang.

Namun seketika aroma enigma dalam novel ‘enigma’ ini runtuh saat saya membaca cover bagian belakang novel ini. Ada rasa kecewa. Bayangkan jika saya membaca novel ini dari cover belakang, seperti yang biasa saya lakukan saat membeli buku di toko buku, pastilah akan muncul pengkotak-kotakan, siapa itu Isara, Hasha, Patta, Chang, dan Goza. Seolah Mas Yudhi tak memberi kebebasan kepada pembaca untuk mendefinisikan siapa itu Isara, Hasha, Patta, dan tokoh-tokoh lain dalam ceritaini. Saya mencoba membuat gambaran tentang tokoh-tokoh dalam enigma ini. Sedikit gambaran tentang tokoh-tokohdalam enigma.

Isara. Seorangtokoh yang berperan dalam novel ini sebagai laku hidup yang tak tuntas.Seorang indigo yang sosoknya selaluhadir di setiap puzzle sahabat-sahabatnya. Ibarat Isara adalah ikat sapu dan keempat sahabatnya yang lainsebagai lidinya. Isara seolah mencoba menggambarkan sebuah garis yang memisahkan dimensi satu dengan yang lainnya. Ada keterlibatan dimensi yang lain yang membuat sosok Isara dalam cerita ini menjadi tokoh utama. Ada kedalaman tentang bagaimana membaca petanda dari Tuhan. Kegamblangan itu saja masih belum terbaca secara tepat. Kelebihan Isara malah membawanya terseret dalam kelekar bayang-bayang yang tak mempertemukannya denganHasha.
Patta. Seorang lelaki yang terlambat memasuki dunia perempuan yang dicintainya.Perceraian mengajarkan dirinya mempelajari kembali setiap jangka yang telah dilaluinya.
Dalamcerita Patta, ada keterlibatan sosok lelaki yang gila kekuasaan. Wirajja. Sosokpenguasa yang menggilas apa saja demi mempertahankan kedudukannya. Kekuasaan yang curang dan tidak jujur pastilah akan menghabisi sentilan-sentilan yang menyentuhnya. Di sini Patta adalah sosok yang paling bedebah sebenarnya. Karena ia juga melibatkan seorang bedebah (Goza) dalam kejahatan yang dilakukan Wirajja. Di sini tergambarkan bahwabanyak sebenarnya orang-orang cerdas yang sering salah dan terjerat dengan kejahatan sistem. Patta menduduki posisi sebagai orang yang tak punya kuasa untuk menolak. Wong pinter sing keblinger. Di sini sosok Hasha bermain. Ada satukekuatan yang amatditakutiolehsosokwirajja.kekuatan kata dalampolitik di media massa. Tulisan-tulisanhasha di media massa menggetarkan dan menakutkan layaknya pedang yang akan menebas habis kekuasaan yang curang. Tangan panjang Wirajja mencoba menghabisi sang pejuang kata.

Goza. Cerita tentangk egilaan seks dan kesenangan sesaatnya.Dibalik  wajah Goza, ada sesosok ibu di masa lalu. Penyiksaan terhadap Goza di masa kecil merupakan satu potongan puzzle yang hilang dalamingatan. Bagaimana seorang ibu membentuk hati anak laki-lakinya.Ada ingatan yang harusnya diruwat sebagai sebuah pelajaran. Menganalisa ingatan itu menjadi tak tersentuh karena sang ibu tak kembali merangkul anaknya. Analisa Goza masih belum tuntas.Goza seakan tak mendapat ampun sebagai bedebah. Gaya berbahasa Mas Yudhi dalam enigma sebagai seorang Goza merupakan satu seni yang cakap. Mampu membuat novel ini lepas dan melibatkan hal-hal yang dekat dengan kenyataan dalam masyarakat.

Chang. Sosok Chang dalam cerita ini menggambarkan kondisi pergulatan iman yang panjang. Suatu kelompok keagamaan yang mengalami pengusiran karena dianggap menyalahi akidah keagamaan yang ada. Membaca kisah Chang ini mengingatkan saya tentang novel ‘maryam’ karya OkkyMadasari. ‘Maryam’ berkisah tentang satu golongan keagamaan yang terusir dari tempat asalnya. Namun di sini pergulatan dalam novel Maryam jauh lebih mendalam. Kisah Chang hanya seperti letupan kecil yang hilang di antara kobaran api novel Enigma. Seandainya cerita tentang Chang dibahas tuntas tanpa mengurangi enigma didalamnya, tentunya akan lebih memuaskan pembaca, khususnya saya pribadi yang cukup menikmatik arya Mas Yudhi yang unik dan apik.
Beberapa gambaran yang samar-samar terwacanakan melaluitokoh-tokoh di atas.Pelibatan-pelibatan simbol-simbol seperti epitaf, lilin, buku, dan warung lotek menyimpan enigmanya. Ada harapan dalam hati saya, novel ini bisa direvisi dengan penggantian wacana di cover belakang, juga pendalaman kharakter setiap tokohnya agar tidak terasa nanggung. Setebal 800 halaman pun tak apa, tak akan mengurangi selera pembaca untuk menamatkannya.

Sabrina Nevada. Santri kelas bahasa Pare

Teka-teki Isi Hati, oleh Amir Syakib Arselan

Setelah membaca novel ini, kalau dimintakan pendapat dengan dua kata maka saya akan menjawab novel ini: terlalu kompleks. Hehe. Hal inidikarenakan ceritanya cepat dan konfliknya ‘gila.’ Apalagi secara pribadi saya harus bolak balik membacanya karena belum habis pemaparan terhadap satu persoalan sudah terhubung lagi dengan cerita sebelumnya, atau terpenggal begtu saja.Atau mungkin juga karena memang si pembaca ini pelupa ya.Hahaha.
Waktu yang terlewati saat membacanya hingga akhir, yang teringat di benak ini akan novel tersebutadalah selalu  tentang tokoh Isara dan Haza. Mengapa? Karena begitu kesalnya sayakepada mereka berdua. Penokohan Isara dan Haza dengan lingkaran masalah pribadi di antara mereka berdua sungguh membuat hati saya masgul. Kesal. Tidak kesal bagaimana, sudah jelas di awal-awal persahabatan berlima tersebut diantara mereka berdua sudah muncul sinyal-sinyal saling ketertarikan. Seharusnya salahsatu dari mereka berdua yang menyatakan ketertarikannya, entah dari pihak laki-laki ataupun dari pihak perempuannya. Apa salahnya  kalau memang Hasha terlalu ‘pemalu’, ya Isaralah yang mencoba mengungkapkannya. Malu. Ketakutan atau ketabuan menjadi kabur.

Kepekaan Ungkapan
Kalau saya melihat kasus ini pada realitas sosial, sungguh ini sering kali terjadi. Seharusnya banyak orang yang bisa bertemu dengan ‘soulmate’-nya andai semua insan bisa menggunakan kepekaannya dan memilikikeberanian alias ‘merdeka’ untuk mengungkapkan isi hatinya,Intinya: berani jujur. Eh, seperti kampanye anti korupsi  saja. Dengan keberanian mengungkapkan isi hati ini, maka bakal banyak pasangan-pasangan yang bakal berbahagia dengan pilihan hatinya. Dan jugabisa meminimalisir ‘korban’alaIsaradanHashaini. Goza pun mungkin akan segera tahu diri dan bisa mengambil sikap berbeda. Wah, ceritanya malah jadi lain dong ya?!
Permasalahan dari pasangan ini sangat berbeda kalau coba saya bandingkan dengan novelnya Marah Rusli yang berjudul Memang Jodoh, dengan tokohnya Hamli dan Radin. Dalam novelnya,Marah memperlihatkan tentang kekuatan dalam mencari belahan jiwanya. Dengan menentang adat masing-masing yang sangat kuat dan dengan “kepekaannya” membuat mereka bisa berjodoh. Dengan hati jernihnya  pula mereka berdua memperlihatkan keteguhan memegang prinsip.  Betapapun cobaan berat yang menimpa mereka bertubi tubi bisa dilaluinya dengan baik, sehingga pada akhirnya mereka “Memang Jodoh”
Oh iya, bukan maksud saya sengaja membandingkan isi novel Enigma kaya Yudhi Herwibowo dan Memang Jodoh karya Marah Rusli dalam hal mengambil potensi konflik percintaan antar tokoh utamanya, tetapi lebih keinginan untuk mengkritisi  kehidupan nyata yang saatiniterjadi di sekitarkita. Bahwa  mental-mental manusia kitamemang mengalami pergeseran yang sangat  tajam. Seperti yang tertuang dalam kedua Novel yang berbeda zaman tersebut.Bagaimana tidak, Hamli dan Radin berusaha segenap jiwa raganya untuk menyatakan, menyerukan, dan memperjuangkan isi hatinya. Dengan segala keteguhan hati mereka terus berusaha untuk ”mendapatkan” hal sesuai dengan yang terasa dalam hati dan pikirannya, bahkan mimpinya. Mereka bergiat menunjukan kekuatan yang ada dalam dirinya untuk mencapai “kebahagiaannya.” Sebuah realitas masa lalu yang teguh dan kukuh.
Sedangkan kisah Isara dan Hasha seperti mewakili realitas yang ada pada saat ini, dimana kekuatan mental untuk mennggapai cinta seperti tidak diusahakan sungguh-sungguh, Padahal kesempatan selalu ada. Keraguanjustrumenjadilingkaran yang mendominasi, dan malah mengorbankan orang-orang lain di sekitar mereka Manusia memang sering kali lebih suka mengabaikan keunggulan dirinya dan menepikan kesempatan. Lantas merasa sengsara. Tanpa sadar hidup menjadi melingkar-lingkar. Melelahkan. Jauh dari bahagia yang diimpikan, Kebahagiaan menjadi peristiwa yang ditunggu bukan diupayakan. Manusia pun tanggal rasa kepekaannya pada rasanya sendiri

Isyarat Masa Depan
Yang menarik juga bagi saya adalah tentang kelebihan Isara dalam melihat gambaran dalam diri orang lain dengan cara memegangtangan dan memejamkan mata.  Satu sisi Isara diperlihatkan tentang masa depan seseorang  meskipun dalam pecahan-pecahan gambar. Namundisisi lain Iamemiliki ketidakmampuan menafsirkan dengan pasti. Tetapi itu justru memperlihatkan satupemahanmendasarbahwahanya tuhan yang benar-benar tahu skenario apa yang bakal terjadi .
Kekuatan Isara ini mengingatkan saya pada film The Eye yang tokohnya buta. Ia mendapatkan kornea mata dari orang lain yang mendonorkanmatanya. Ternyata ketika dia bisa melihat bukan saja dunia nyata yang terlihat tetapi dunia ‘baru’ ikut menampakkan dirinya. Bahkan malaikat pencabut nyawa pun terlihat! Setelah dirinya mengetahui  bisa melihat hal-hal gaib, dia mencoba mencegah orang yang didatangi malaikat pencabut nyawa agar tidak mati. Tapi karena memang bukan “pengeksekusi” orang-orang tidak ada yang percaya. Mereka kerap menyebutnya gila, bahkan dituduh sebagai penyebab kematian.
Garis merahnya dengan kelebihan Isara ini adalahbahwa orang denganberbagaikondisidirinya, terutama yang berupa kelebihan, bisa membantu orang lain.Meskipun pada akhirnya tetaplah ketentuan itu adalah milik Sang Pemilik Ketentuan. Akhirnya semoga dengan membaca novel ini  banyak orang bisamenjadi “Merdeka”  terhadap hatinya dan banyak orang bisa mendapatkan “Belahan Kebahagiaannya”.
O iya, ini merupakanpengalaman pertama saya menulis atau mengomentari  dan mengulas  tulisan seseorang lewat tulisan. Dan ternyata, menulis tak semudah berbicara. Mendiskusikannya dalam sesi kelas Bahasa Indonesia. Hahaha. Dan yang penting lagi: HidupMenulis.


Amir Syakib ArselanPenulis adalah pembaca yang  tekun asal Kota Kembang. Santri part-time kelas Bahasa Indonesia khusus materi bedah buku. Bercita-cita menjadi penulis besar seperti namanya. 

NB: Love banget buat [un] affair,-nya...